MENGUNGKAP FILOSOFI KANDO PADA MOTOR YAMAHA

torakusu_yamaha1_490

DIOARDI-Blog. Halo sobat semua, artikel nambah wawasan  tentang filosofi kando motor yamaha, sebelumnya artikel tentang kisah logo garputala pada motor yamaha, kini kita kembali menjabarkan tentang filosofi kando dalam yamaha, semoga artikel ini bermanfaat bagi brosis semuanya terutama untuk Yamaha lovers dimanapun anda berada.

Kota Hamamatsu, Jepang, sekitar 251 kilometer dari Tokyo di sebelah barat . Markas besar Yamaha. Di pinggiran kota Hanamatsu terdapat Yamaha Motor Company Museum. Di museum itu terdapat berbagai jenis motor keluaran Yamaha sejak perusahaan itu memproduksi motor. Meskipun namanya museum motor perusahaan otomotif Yamaha sebuah tempat terhormat justru diberikan bukan pada sebuah motor.

Justru sebuah piano diletakkan di tengah-tengah dikelilingi motor-motor legendaris yang pernah dibuat Yamaha. Kenapa sebuah piano diletakkan sebegitu terhormat di museum khusus motor? Jawabannya tidak sesederhana sekadar karena sebelum membuat motor Yamaha adalah pembuat piano. Ada hubungan lebih erat antara piano dan motor Yamaha. Hubungan seperti apa, begitu mungkin bradercis bertanya. Well, untuk menjelaskannya kita harus menyusuri sejarah panjang Yamaha terlebih dahulu. Di Jepang tahun 1900, di kota Hamamatsu, Torakusu Yamaha membuat piano pertamanya. Tidak hanya piano pertama yang ia buat, melinkan itu piano pertama yang dibuat sepenuhnya oleh orang Jepang. Karena kecintaannya pada musik, Torakusu mendirikan perusahaan alat musik Yamaha. Torakusu tadinya hanya memperbaiki piano. Alat musik ini sampai akhir tahun 1800-an diimpor Jepang dari Eropa. “Dia (Torakusu) lalu mulai membuat piano dan memulai bisnis peralatan musiknya,” kata Hiroshi Sasaki, manager museum Yamaha Motors.

Di Jepang ternyata ada begitu banyak pohon yang bagus dan cocok untuk membuat piano. Jepang kemudian tidak lagi mengimpor piano dari Eropa, melainkan justru mengekspornya ke berbagai negara di dunia. Yamaha kemudian tumbuh menjadi perusahaan piano terbesar di dunia, bahkan hingga kini. Bukti kesuksesan Yamaha sebagai perusahaan pembuat piano yakni saat piano buatan mereka dipamerkan di arena Pekan Raya Dunia tahun 1904 di St. Louis, Missouri.

Lalu datanglah Perang Dunia II. Bradercis tentu tahu Jepang terlibat dalam perang itu. Jepang menyerang Pearl Harbor di Amerika tahun 1941 menandai Perang Dunia II di front Pasifik. Tentara Jepang juga menginvasi negara-negara tetangganya, dari China, Korea, hingga kawasan Asia Tenggara, termasuk negeri kita yang dijajah Jepang selama 3,5 tahun. Pemerintahan fasis militer Jepang mewajibkan perusahaan di seluruh negeri membantu agar perang bisa dimenangkan.

Termasuk perusahaan Yamaha yang membuat piano diperintah membuat alat perang. Yamaha diminta membuat propeller atau baling-baling pesawat tempur. Tapi gara-gara itu dianggap pabrik pembuat alat perang juga, pabrik Torakusu dibom tentara Amerika. Di lain pihak, bagi penduduk Jepang ketika perang dan saat perang baru berakhir, piano bukanlah prioritas pertama dalam hidup. Di masa sulit, orang tak membeli piano, melainkan memenuhi kebutuhannya dulu untuk bisa bertahan hidup. Hal ini membuat petinggi Yamaha berpikir keras, bagaimana perusahaaan mereka juga bisa bertahan di masa sulit.

Akhirnya diperoleh solusi. Yamaha memiliki teknologi pengolahan metal yang khusus digunakan untuk membuat piano. Usai Perang Dunia II, perusahaan ini sadar teknologi metal khusus tersebut bisa digunakan untuk membuat motor. Yamaha mulai memproduksi motor tahun 1955, sepuluh tahun setelah perang besar berakhir. “Kami perusahaan Jepang terakhir yang terjun ke bidang otomotif dan memutuskan membuat motor, tapi kami yang membentuk seperti apa motor itu,” kata Hiroshi Sasaki, manager museum Yamaha bangga. Yamaha kemudian membawa nilai-nilai keterampilan mereka membuat piano ke dalam bidang otomotif.

hanami1_400

Membentuk motor? Apa maksudnya? Dan apa hubungannya dengan keterampilan membuat alat musik dengan motor?
Dari sini bradercis bertemu dengan filosofi “Kando”. Masyarakat Jepang mengenal tradisi “hanami” yang berarti “melihat bunga.” Tradisi ini sudah dimulai sejak abad ke-8. Dari akhir bulan Maret hingga awal Mei, bunga khas Jepang Sakura bermekaran di seantero negeri.

Pada hari itu, masyarakat Jepang melakukan “hanami” dengan berhenti beraktivitas baik di kantor maupun sekolah, untuk menikmati bunga Sakura yang mekar. Tradisi “hanami” dikatakan salah satu praktek filosofi Kando yang tumbuh dalam masyarakat Jepang. Kando adalah filosofi jepang kuno yang menggambarkan bagaimana seni dan keindahan mempengaruhi jiwa manusia.

Yamaha memegang prinsip filosofi Kando. Telah lebih dari seabad filosofi itu dipraktekan dalam keahlian membuat alat musik yang tak tertandingi. Pada pertengahan abad ke-20, filosofi itu dipakai saat Yamaha membuat sepeda motor. Itu sebabnya, ketika Yamaha memproduki motor, perusahaan ini tetap menggunakan logo 3 garpu tala, logo yang sudah Yamaha gunakan saat membuat piano. Garpu tala elemen penting dalam proses pembuatan piano. Benda ini digunakan untuk menyetel nada pada piano.

logo_yamaha_640

Dengan memegang prinsip yang sama saat membuat alat musik, Yamaha ingin motor yang mereka buat tak sekadar alat transportasi, melainkan juga gabungan antara seni dan keindahan. Logo Yamaha mencerminkan filosofi Kando mereka pegang teguh dan jadi inti nilai-nilai perusahaan.“Banyak orang terkejut saat tahu benda di logo itu adalah garpu tala.

Orang pun tak langsung mengaitkannya dengan musik, sampai mereka menggunakan sepeda motor Yamaha. Jadi, sejak awal memang sudah ada hubungan antara musik dengan sepeda motor,” jelas Mitch Boehm, seorang wartawan otomotif dari majalah Motorcyclist. “Kau melihat sesuatu yang bergerak cepat lalu melambat, seperti nada musik, itu menjadi masuk akal karena perusahaan yamaha adalah awalnya pembuat musik.”

Iklan

3 tanggapan untuk “MENGUNGKAP FILOSOFI KANDO PADA MOTOR YAMAHA

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s